Text Genres pada Kurikulum Bahasa Inggris di Sekolah Menengah

2»

Komentar

  • Kembali melanjutkan berbagi dengan Ibu Dewi dari Pekalongan.

    Jadi BKOF merupakan suatu wadah untuk mempersiapkan siswa untuk dapat membuat teks baik lisan maupun tulisan. Kalau siswa sudah mempunyai banyak perbendaharaan kata dan penguasaan grammar yang kuat, maka mereka akan menemukan bahwa belajar bahasa sebagai sesuatu yang menyenangkan karena mereka bisa melakukannya. Jadi konsep fun learning tidak hanya diartikan bahwa ketika belajar anak-anak senang, tertawa riang, tetapi juga "fun" ternyata mereka bisa membuat makna dengan bahasa baik tulis mau pun lisan. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa tahap BKOF ini bisa dilakukan lebih satu satu kali bahkan mungkin bisa 3-4 kali. Ini akan membuat siswa betul-betul memahami topik yang akan ditulis. Waktu yang lama dalam tahap ini bisa dikompensasikan dengan waktu yang lebih sedikit ditahap berikutnya yaitu Modelling, Join construction dan Independent. Karena tujuan dari BKOF itu untuk membangun latar belakang pengetahuan yang kuat tentang suatu topik, maka teks yang diberikan sebenarnya bisa dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dari pengalaman, jika pada tahap BKOF kurang komprehensif, maka anak-anak akan membuat kesalahan yang sangat mendasar yang sebenarnya tidak perlu terjadi kalau pada tahap ini dilalui setidaknya dengan 7 tahap (modus operandi). Artinya, siswa tidak akan bisa melakukan suatu tugas yang harus mereka lakukan kalau mereka tidak dipersiapkan untuk itu dan kalau persiapan itu tidak dibimbing atau scaffolding tidak diberikan.

  • sunting September 2016

    Sahabat-Sahabatku, Bu Agustine, pak Elih, Pak Yono, dan Bu Dewi, yang saya hormati...
    Terimaksih atas penjelasan dan masukannya. SFL adalah pendekatan yang ideal dan bahkan sangat ideal dalam pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa ke dua atau ke tiga di negara kita karena SFL GBA berbasis teks tentunya melibatkan teks dan konteks, ciri-ciri teks yang baik dan intertekstualitas. Menurut Kress, teks merupakan “suatu kesatuan bahasa yang lengkap secara sosial dan kontekstual”, yang mungkin bisa dalam bentuk bahasa lisan maupun tulis.
    Konteks adalah elemen-elemen yang menyertai teks. Menurut Halliday ada dua konteks yang berdampak pada penggunaan bahasa, yakni konteks situasi dan konteks budaya. Konteks situasi merupakan unsur yang paling kuat dampaknya terhadap penggunaan bahasa, dan terdiri dari tiga aspek, yakni field, mode dan tenor.Field mengacu pada topik atau kegiatan yang sedang berlangsung atau yang diceritakan dalam teks. Tenor merupakan hakekat hubungan/status antara pengguna bahasa dalam satu konteks tertentu, berkenaan dengan siapa penulis/pembicara berkomunikasi, formal atau informal. Mode mengacu pada pilihan cara berkomunikasi, bahasa lisan atau tulisan.
    Konteks budaya, yang disebut juga sebagai genre diartikan sebagai jenis teks atau text types (Christie, 1990; Macken Horarik, 1998). Konsep ini yang menjadi dasar bahwa dalam SFL GBA siswa harus mengetahui tahap-tahap dalam menulis berbagai jenis teks karena pemahaman terhadap tahap-tahap itu akan membantu mereka mencapai tujuan komunikasi yang dilakukannya dengan menggunakan bahasa.
    Balik pada bagaimana pendekatan tersebut dilakukan atau "ditaransfer" oleh guru.Saya pribadi sebagai seorang pengajar Bahasa Inggris di SMA telah melakukan hal-hal yang seperti Pa Elih dan bu Agustine terangkan yaitu dengan melakukan empat tahapan di bawah ini berikut dengan turunan turunannya
    1. Building Knowledge of the Field (BKOF)
    2. Modelling
    3. Joint Construction
    4. Independent Construction
    Penerapan genre-based approach di Indonesia dianggap masih memprihatinkan. Dengan tujuan meningkatkan kualitas productive skill siswa, menurut saya, pendekatan ini justru menjadikan siswa tidak produktif dan cenderung semakin malas. Bagaimana mungkin siswa mampu menulis dengan baik sementara pengetahuan akan sistem dan kaidah bahasa Inggris mereka tidaklah begitu mumpuni. Kenapa demikian? karena porsi pengajaran sistem dan kaidah bahasa Inggris amatlah kurang karena berdasarkan SK KD pada KTSP atau KI KD pada K-13 siswa dituntut untuk memahami teks genre tanpa memberi porsi lebih pada kaidah dan struktur kebahsaan (Walaupun dalam SFL dikaji bagaimana Grammar dan genre berkorelasi).
    Memang kuranglah bijak jika menginterpretasikan secara dogmatis kurikulum yang dibuat oleh pemerintah kita. Oleh karena itu, pada komentar-komentar saya sebelumnya saya berujar untuk pintar pintarnya kita sebagai guru menyampaikan Grammar karena porsinya sedikit, dan ini pun menjadi kendala jika dalam SFL GBA terlalu terfokuskan pada Grammar, maka tujuan hakiki dari amanat kurikulum tidaklah akan terwujud. SFL GBA menekankan bahwa belajar akan lebih efektif kalau guru menerangkan secara eksplisit kemampuan yang diharapkan dimiliki oleh siswa setelah proses belajar selesai; bagaimana bahasa beroperasi untuk membangun makna, dalam berbagai jenis teks dan ciri-ciri linguistiknya. SFL GBA menganggap pengajaran tata bahasa merupakan bagian yang penting untuk menuntun siswa pada pengetahuan tentang bagaimana bahasa berfungsi dan diajarkan pada tingkat teks, berdasarkan fungsinya dalam teks yang dibahas.
    SFL pada kurikulum bahasa Inggris di sekolah menengah amatlah fenomenal, tetapi "niat baiknya" tidak didukung dengan 'kesadaran" bahwa siswa-siswa sekolah mengah di Indonesia tidak begitu "cakap" dalam bahasa Inggris; pemerintah menganggap bahwa mereka semua "mahir" sementara fakta di lapangan lain.
    Pemerintah seharusnya tidak meyamakan materi ajar bahasa Inggris pada setiapa jenjang. SD seharusnya terfokus pada vocabulary building (Bahasa Inggris pada K13 tidak diajarkan di SD; dan ini bertolak belakang denga teori Vygotsky sementara kurikulum bahasa Inggris yang dibuat di Indonesia dikembangkan dengan berkaca pada Vygotsky), SMP seharusnya terpokus pada sistem, kaidah, dan tata bahasa Inggris sederhana, dan SMA bolehlah SFL GBA, tetapi tidak dengan dibarengi dengan kaidah-kaidah SFL yang "sebenarnya" karena itu pasti akan membingungkan para siswa; buku ajar cukup menuliskan definisi, fungsi sosial, dan tense yang digunakan di setiap _genre _tanpa menuliskan istilah-istilah "baku" perbendaharaan SFL.
    Terakhir saya ingin bertanya pada Pak Elih (saya baru tahu ternyata pa Elih juga seorang guru SMA) dan bu DEwi apakah dengan menggunkan SFL, situasi tindak tutur dan tulisan para siswa bapak/ibu sudah sesuai dengan filosofi SFL yang menitik beratkan pada teks, konteks, dan intertektualitasnya, serta sesuai dengan kidah kebahasaan bahasa Inggris sementara porsi Grammar pada SFL GBA amatlah sedikit?

  • Terimakasih pak Deny saya ikut bergabung. Ijin menyimak. Diskusi yang mencerdaskan terkait SFL.

  • Memokuskan kepada pertanyaan Pak Rudi "Apakah dengan menggunakan SFL, situasi tindak tutur dan tulisan para siswa bapak/ibu sudah sesuai dengan filosofi SFL yang menitik beratkan pada teks, konteks, dan intertektualitasnya, serta sesuai dengan kaidah kebahasaan bahasa Inggris sementara porsi Grammar pada SFL GBA amatlah sedikit?" Pertanyaan pertama tentu jawabannya Ya karena seorang guru yang mengajar dengan pendekatan SFL-GBA , harus melalui tahap-tahap BKOF, Modeling, Join, and Independent, di mana untuk tahap BKOF saja pengalaman saya ada tujuh modus operandi yang harus dilalui bisa jadi pengalaman teman-teman lebih banyak lagi. Bicara SFL pasti bicara Genre=jenis teks, konteks : unsur-unsur yang menyertaik teks, Intertektualitas: Dalam belajar bahasa siswa harus melihat berbagai sumber/referensi untuk menambah yakinnya bahwa jenis teks yang dihasilkan berterima. Porsi grammar pada SFL-GBA amatlah sedikit ini relatif. Pandai-pandainya guru dan pihak sekolah menyediakan waktu tambahan apabila dalam proses KBM dalam kelas kurang memadai.

  • Saat mengajarkan grammar kepada siswa, perkenalkan website tidak berbayar misal, grammarchecker, sentence checker untuk membantu guru mengoreksi grammar siswa. Jelaskan kepada siswa secara bertahap perbedaan traditional dan SFG.

  • sunting September 2016

    Salam sahabatku, Pak Elih...
    Saya rasa menjelaskan siswa menengah perbedaan traditional Grammar dan SFL secara gamblang seperti halnya "menggarami air laut". Selain itu tujuan dari kurikulum tidak akan tersampaikan sebagaimana yang diamanhakn pemerintah. Jikapun harus demikian, seperti yang sudah saya katakan pada komentar-komentar saya sebelumnya, saya hanya menjelaskan bahwa participant _adalah subjek atau objek, _process _adalah _verb, dan circmstances _adalah kata keterangan (_adverbs); selebihnya saya tidaklah "berani" karena kalau kita runut pada taksonmi Bloom, saya yakin seyakin yakinnya, kecuali mungkin pada sekolah-sekalah yang siswa dan sarana prasarananya sudah"sophisticated" pengalaman belajar mereka mungkin sudah berada pada tahap "application", pengalaman belajar siswa menengah belum berada pada tahapan "comprehension", bahkan pengalaman belajar mereka masih cenderung berada pada tingkat "knowledge".

  • selamat pagi, mohon maaf baru bs membaca diskusi.
    Pak Rudiyana, hehe, saya tergelitik membaca statement Bapak, "seperti halnya "menggarami air laut"..", mengapa Bapak? Ini akan menyiratkan teaching philosophy seseorang hehe, maaf.
    Menjadi guru tidak mudah, saya sungguh setuju. Sebagai guru, saya berproses memahami dan memahamkan, terhadap diri sy sendiri dan terhadap anak2 didik sy. Dalam proses men-transfer ilmu, di saat yang sama saya (ternyata) juga mendapatkan ilmu baru dari anak2 saya. Bagaimana memahamkan mereka, bagaimana memahami mereka, dan sepanjang yg saya amati, tidak akan bisa sy menyeragamkan anak2 ini, karena keunikan satu sama lain. Meminjam teori Howard Gardner ttg Multiple Intelligence (semoga benar nulisnya, hehe).

    Bapak, di pertanyaan sebelumnya, panjenengan menanyakan apakah saya menerapkan Theory Appliable Lingustics ini, jawabnya "ya", meski dengan pengetahuan sy yang terbatas, perlahan, dan saya belajar dari kawan2 lain.
    Menjadi guru, means harus mau belajar sepanjang hayat, learn to learn, dan itu berarti dengan ke-sabar-an, ke-rendah-an dan ke-luas-an hati. Tanpa landasan ini, saya kok takut ya, jiwa kita akan atau sudah berhenti menjadi seorang 'guru' sejati, hehe. Mohon maaf apabila dengan keterbatasan pengetahuan sy, ada kelira keliru dalam tulisan ini njih Pak. Terima kasih.

  • sunting September 2016

    Sahabatku Bu Dewi....tidak....tidak....sama sekali tidak, sahabatku! tu bukan filosofi saya. filosofi saya sebagai guru adalah "Bagaimana memanusiakan manusia", persis yang bu Dewi sebutkan bahwa selaku guru kita harus sadar bahwa setiap siswa itu unik dan cerdas dengan potensinya masing-masing. Yang saya bidik adalah kurikulum bahasa Inggris kita sehingga buku ajar memporsikan sedikit sekali Grammar. Bagaimana bisa mereka menulis dan berbicara dengan baik dan benar sementara porsi untuk hal-hal dasar, kecil dan "sepele" amatlah sedikit sekali disinggung pada kurikulum kita. Pemerintah menganggap bahwa siswa-siswa kita sudahlah sangat "HEBAT dan MAHIR" berbahasa Inggris Inggris (padahal di lapangan tidak demikian), sehingga lahirlah kurikulum yang sekarang kita ajarkan pada anak didik kita. Sekali lagi sahabatku....SFL GBA adalah pendekatan yang ideal bahkan sangat ideal dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Inggris, tetapi sayang di lapangan belum siap, sahabatku...
    Sudah hampir 11 tahun saya di dunia pendidikan. Ini adalah keluhan saya sebagai seorang pengajar Bahasa Inggris yang mulai menggeluti dunia sekolah menengah sejak 2010 hingga sekarang. Menemukan buku-buku bahasa Inggris miliki keponakan saya yang memang begitu "complicated" untuk ukuran anak SMA, lantas terjunlah saya ke dunia pendidikan SMA untuk membuktikannya. Dan selama itupulalah, pengajaran saya tidaklah begitu "menggembirakan" diri saya walaupun segala petunujuk teknis telah saya lakukan; tidak tahu apakah kesalahannya dari saya atau mungkin dari siswa-siswa saya.
    Berbeda dengan Bahasa Inggris yang pernah saya dapatka dulu ketika sekolah. kurikulum kita berusaha untuk memberikan kain, benang aneka warna, jarum serta mesin jahit untuk selanjutnya kita jadikan baju beraneka ragam, pola, dan motip. Tetapi sekarang, seolah pemerintah memberikan anak-anak kita "baju jadinya"
    Adapun bagi mereka-mereka yang sukses mengajarkan materi pada kurikulum kita sekarang saya acungkan "JEMPOL" walaupun di benak saya muncul KESANGSIAN bahkan KETIDAKPERCAYAAN akan hal tersebut. Hampir setiap tahun saya menjadi juri debat, tak banyak siswa yang bertutur dengan menggunakan kaidah kebahasaan Bahasa Inggris dengan baik dan benar. Mereka hanya merangkai kata semata. Jika hanya bisa merangkai kata semata, maka sayapun tentunya sudah sangat berhasil mengajarkan mereka Bahasa Inggris.

  • Hehe, Pak Rudiyana, sepertinya harus scroll kembali ke atas, utk komen Ibu Helena dan Pak Elih tentang buku ajar, yes, saya setuju dengan realita buku ajar yg mungkin dibuat oleh mereka (team) yg mkin belum memaknai filosofi teori "appliable linguistics" or SFL. Itulah mengapa, sebagai guru, kita harus selalu kreatif dalam navigating teks dan materi terkait, dan menularkan skill tersebut kepada anak2, lewat SFL pula, sy akhirnya tahu integrated skills, yg dulu sy tahunya hanya 4 skills yg biasa sy ajarkan satu2. Siswa hanya sebagai passive learners, belajar apa adanya. In fact, dunia ini adalah teks, di sekitar kita, semua adalah teks. Bahwa Past tense tidak hanya berfungsi utk sesuatu yg lampau, melainkan bisa juga utk Memperhalus Voice seorang pentutur, bahwa senyum, seringai adalah teks. Dengan memakai teks appropriately, kita belajar SFL.
  • Luarbiasa Bu Dewi ini , saya setuju bahwa saat ini skills dalam belajar bahasa tidak cukup dengan mempelajari skills konvensional saja: Listening, speaking, reading, writing, seiring dengan perkembangan teknologi digital sekarang sekurangnya bertambah 6 skills lagi yang harus diajarkan kepada siswa yaitu: viewing, navigating, lexicogrammaring, digitalizing, intertextualizing dan resemiotizing. Dengan informasi tambahan skills ini kepada siswa, sudah tidak ada alasan guru untuk menyalahkan situasi, kata pepatah it is better to light the candle than to curse the darkness.

  • Salam kenal Bapak Prihantoro
    Terkait dengan buku pedoman mengajar, saat ini telah tersedia buku mengacu pada kurikulum 2013 yang menjadi buku pedoman guru dalam mengajar. Ketik saja secara online untuk buku pegangan siswa sesuai yang dicari kelas berapa. Maka, akan muncul beberapa referensi untuk download buku-buku tersebut, baik buku siswa maupun buku pegangan guru mengajar.
    Setelah sekian lama, saya juga akhirnya memiliki sebuah gambaran untuk mengajar, baik sumber, metode pengajaran maupun metode penilaian. Selama ini, materi yang saya rasa belum cukup maka saya tambahkan sendiri dari pencarian di internet. Namun dengan hadirnya buku pegangan guru, maka menambah refernsi mengajar yang lebih baik dan mengajar jadi lebih terarah dari awal.
    Ketika menghadapi hambatan di tengah proses pembelajaran, maka solusi minimal bisa diketahui. Semoga semakin berkembang lagi buku-buku pegangan siswa dan guru. Lihatlah buku-buku terbitan buku sekolah elektronik terbitan dulu, semua buku-buku hanya fokus pada materi saja. Panduan memang ada, namun menurut saya masih kurang jelas, dibanding buku-buku sekarang yang sudah memiliki buku penduan untuk guru. Sekian komentar dari saya.

  • Salam kenal dan salam hormat kepada Ibu-Bapak semua. Nama saya Yanto Musthofa, mohon izin bergabung. Walaupun terlambat dari diskusi, saya senang menemukan forum yang istimewa ini.

    Saya bukan seorang guru, meskipun pernah belajar di sekolah keguruan Bahasa Inggris. Saya hanya seorang penulis lepas yang menyukai isu-isu pendidikan. Sebelumnya, saya mengembara dalam pekerjaan sebagai pewarta selama belasan tahun.

    Saya terbawa ke forum ini saat berselancar mencari diskusi tentang problem belajar Bahasa Inggris. Ternyata yang saya temukan jauh lebih menarik, terutama karena Ibu-Bapak para peserta diskusi yang tidak hanya sangat serius, tapi juga otoritatif di mata saya sebagai pembelajar.

    Baiklah, mohon izin untuk mencerna pelan-pelan thread diskusinya, dan Salam Hormat.

  • Silahkan pak Mustofa. Semoga tidak salah persepsi mengenai postingan dan argumen-argumen saya di forum ini. Ini merupakan salahsatu bentuk kepedulian saya terhadap pendidikan, terutama pengajaran bahasa Inggris.
    Selamat membaca.

  • Pak Rudiyanakemalpasha tidak lebih hanya mengingatkan kepada kita bahwa menerangkan jargon teaching; Scientific Focus Learning, Test-based learning, dan BCL (Bunga Citra Lestari?) ke pada siswa adalah tidak tepat bahkan cenderung a waste of time dan jauh dari goal akhir kurikulum yang bernafaskan Hots dan 21st century learning.

    Hots dan 21st learning lebih menekankan kepada siswa untuk mengtahui what future they will hold setelah mereka belajar sesuatu. What is it good for them to study writing invitation letter, paragraphing, grammar accuracy yang akan menghindarkan mereka dari meaning interferences yang berakibat pembaca atau audience mereka menjadi misled dan misunderstood. Apakah tidak frustasi rasanya jika orang lain salah paham dengan pendapat kita? Maksud kita kan baik? Sering kan kita mendengar keluhan dari diri kita sendiri ataupun orang lain ketika telah berbuih buih berbicara dan bertinta tinta printer di kertas, ternyata audience menanggapi lain. Frustasi kan?

    Or try this: Apakah kelak mereka akan mendapatkan posisi yang baik ketika bekerja di sebuah perusahaan, bekerja sebagai pengacara, pemimpin serikat buruh, atau sedang mengikuti tender dengan berlatih reasoning di kelas EFL Writing dengan menulis topic sentence berikut support detailsnya?

    Apakah mereka kelak akan menjadi seorang ayah/ibu yang berwawasan luas bagi putra putrinya setelah mereka berlatih critical reading di kelas yang didalam terdapat latihan "read between the line", "What does the writer imply by saying....?"

    Ataukah dengan belajar secara HOTS bisa menghindarkan mereka dari menjadi orang tua yang "because I said so!" tanpa bisa memberi support details di setiap keputusan yang di buat untuk anak-anak mereka? Di kelas EFL Reading dan Writing yang HOTS, siswa di didik untuk selalu critically voice ideas mereka. Anything you say, harus bisa di pertanggung jawabkan dengan memberi support details, dan critically analysize any various text yang kau tangkap dengan 5 senses mu sebelum grusa grusu nge judge atau membenarkannya. Jangan - jangan text tersebut adalah Hoax.

    Atau latihan menulis menggunakan cohesive devises yang tepat akan membuat mereka kelak sebagai TV anchor, orator, pemimpin organisasi atau pemimpin keluarga yang dapat dengan efektif dan runut ketikan menyampaikan nasehat, wejangan, dan pendapat? Sehingga penganut Vikinisasi akan punah di era anak anak kita sudah dewasa nanti.

    Ataukah, belajar critically reading dengan extracting meaning akan menghindarkan anak-anak menjadi pengguna sosmed yang arif, bijaksana, dan bertanggung jawab. Berlatih menjawab soal soal yang HOTS dari setiap latihan EFL Reading dan Listening, akan menajamkan insting anak-anak didik kita akan berita berita hoax. Bahkan, belajar reasoning ketika di kelas EFL Writing yang di dalamnya ada penulisan Thesis Statement dan Support Details, akan membiasakan anak didik kita menjadi penulis sta

    The list goes on.

    Menurut Herbert Putcha, hanya dengan membantu siswa mengetahui FAEDAH belajar sesuatu bagi kehidupan mereka KELAK, proses belajar mengajar tersebut akan efektif dan motivasi akan muncul secara alami.

    Vigotsky dan Bronfernbrenner menitik beratkan ketergantungan yang besar dari peran lingkungan dan sekitar (Healthy parenting and healthy teaching tentunya) untuk keberhasilan seorang anak atau siswa dalam menyerap pelajaran apapun. Entah itu belajar paragraphing, listening for specific information, belajar berhitung, klasifikasi ordo tanaman, menjaga nada suara ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, belajar bilangan prima, sistem peredaran darah dan lain lain.

    Semangat pemerintah era Jokowi untuk merubah kurikulum menjadi lebih HOTS dan 21st century adalah untuk menumbuhkan semakin banyak innovator dan initiator wiraswasta, menekan jumlah generasi follower atau pengEkor tanpa tahu siapa yang di Ekor i karena anak tidak di biasakan untuk berpikir kritis dan analitis.

    Bagi mereka yang pernah mengajar di sekolah yang mengadopsi IB tidak akan asing dengan keberanian siswa yang mensuarakan perbedaan dengan para gurunya, bahkan mereka mempertanyakan mengapa kita buang buang waktu belajar grammar di kelas bahasa inggris toh setiap hari juga mereka terexpose dengan bahasa inggris di rumah dan di sekolah? Menjadi pribadi yang unik dan lain dari sebagian besar murid adalah di rayakan, bukan di questioning bahkan di kucilkan. Saya jadi inget dengan statement dari salah satu petinggi Diknas Jakarta yang mengataka," K13 mendidik anak menjadi raja ngeYel, tukang mendebat."

    Sudah bukan rahasia mum lagi, sekolah berbasis IB, yang keberadaannya sudah sannat lama di Indonesia ini, adalah sekolah-sekolah yang berbiaya selangit dan sebagian besar adalah sekolah international. Inilah saatnya, sekolah-sekolah national kita mencicipi kurikulum tersebut. Sehingga lulusan sekolah-sekolah kita tidak akan kalah bersaing dalam penciptaan, self sufficient, dan lebih berdaya untuk diri sendiri dan orang lain.

    Sekolah sekolah kita masih memberi pelajaran budi pekerti dan agama, itu yang tidak di miliki oleh sebagian besar sekolah IB. Inilah yang seharusnya menjadi kebanggaan bagi kita semua, yang masih memegang teguh aturan aturan berbudi pekerti namun tunduk terhadap Tuhan yang Maha Tinggi. Zona horisontal dan vertikal anak-anak didik kita jauh lebih seimbang. Inilah kekuatan kita. Tunduk kepada Ke Maha-an Tuhan berarti kita tahu persisi bagiana sisi lain dari faktor yang mendukung keberhasilan segala hajat kita; tidak hanya baik ke pada sesama, namun juga tunduk terhadap aturan Tuhan yang sangat bisa untuk memporak pandakan suatu rencana yang telah di siapkan se empiris mungkin, se scientifick mungkin, se HOTS mungkin bahkan telah di dukung oleh highly advance knowledge dari setiap otak manusia pelakunya. Bisa hancur dalam kedipan mata jika Tuhan sudah berkehendak. Pendidikan vertikal kita menitik beraatkan untuk meminta ke pada Tuhan segala kelancaran dari usaha kita, namun kita harus pasrah dan tetap optimis ketika renca gaga. Anak didik kita terhindar dari frustasi dan hilang pegangan ketika kegagalan menghampiri. Sekolah kita lebih lengkap. Prof Anita Lie, salah satu dosen saya ketika mengajar di salah satu kuliah Education Leadership mengutarakan keprihatinannya di sistem pendidikan USA yang menghapus pendidikan agama dari kurikulum, maka sex bebas meraja lela, bahkan sudah umum di temukan dispenser kondom di sekolah-sekolah SMA. Horisontal dan Vertikal tidak seimbang.

    There are a lot of room for improvement. Pasti itu. Kurikulum 13 ini seolah olah adalah bayi. Masih ingat ketika kita menjadi orang tua muda metida di karuniai bayi untuk pertama kalinya, maka trials and errors membayangi di setiap hari nya. Bayi ini menjadi bulan bulanan "there is always a first time kita." Namun, tidak serta merta kita berhenti dengan memberikannya ke Mbah nya, atau baby sitter atau pembantu. Kita terus berjibaku menghadapi segala rintangan, dan cobaannya. Kadang kita bertanya ke kanan kiri, ke tetangga, ke orang tua bahkan ke mbah google. Kenapa kok tiba tiba panas, kenapa kok tiba tiba kotoran lenin encer dari biasanya?

    Kita checking notes dengan para kolega kita di sekolah atau sekolah lain, kita bisa bertanya kepada para petinggi pemangku jabatan terkait, bahkan kita bisa bertanya pada rumput yang bergoyang :) . Mengapa begitu banyak administrasinya, ya? Mengapa Buku teks tidak inline dengan KI KD nya, Ya? Mengapa sedikit sekali contoh Genre-Text yang di Perpustakaan sekolah Ya? dan lain Ya? Ya? Ya? lainnya.

    Pemerintahpun tidak allergy terhadap masukan, dan keluhan. Banyak di gelar seminar, workshop, dan support groups yang bisa di ikuti. Entah di ambil dari official FB group dan lain lain. Yang di harapkan adalah regular constructive criticism bukan regular destructive criticism.

    Salam sayang dari saya; Pengagum para bapak dan iba guru di sekolah.

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.