Indonesia Belum Siap untuk Genre Based Approach (SFL)


Terkait dengan postingan saya tempo lalau mengenai Kurikulum Bahasa Inggris berbasis teks (Genre Based Approach). Inilah salah satu contoh atau bukti bahwa Indonesia belum siap untuk hal ini. Sekali lagi, dalam postingan saya tempo lalu tidak menjustifikasi SFL/FG dalam kurikulum bahasa Inggris sebagai sesuatu yang "salah", tetapi lebih kepada menyinggung ketidaksiapan kita untuk menerapkan SFL/FG karean ketidakmerataan kualitas pendidikan di negara kita. Bagaimana dengan pendapat saudara-saudara? Terimaksih!

Komentar

  • sunting Maret 2017

    Terima kasih atas pendapatnya. Di buku tersebut, saya hanya bisa memberi komentar tentang grammar-nya... Yang menulis buku tsb TOEFL atau IELTS-nya berapa ya? hehehe....
    Mengenai unsur SFL/FG-nya, silakan anggota yg lain, yg lebih ahli utk menanggapi.

  • Yth Bapak Rudi, saya tidak melihat korelasi antara Buku teks yang “ngawur” yang Pak Rudi tag dengan proposisi Pak Rudi tentang “ketidaksiapan kita untuk menerapkan SFL/FG karean ketidakmerataan kualitas pendidikan di negara kita”
    Namun demikian Saya bisa memberikan komentar sebagai berikut:

    1. Untuk kasus beredarnya buku-buku teks Bahasa Inggris “abal-abal” di pasaran yang ditulis bukan oleh pakar penulis buku ajar itu jelas menjadi keprihatinan kita bersama. Hal ini merupakan indikasi tidak adanya mekanisme supervise dari pemerintahan dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    2. Memang nyata sekali adanya ketidakpahaman para guru karena satu dan lain hal mengenai berbagai pendekatan pengajaran bahasa Inggris yang mengakibatkan adanya “gap” antara pendekatan yang dipakai misalnya genre-based dengan pelaksanaannya.
    3. Beberapa riset di Indonesia melaporkan adanya kebingungan, kesalahpahaman di kalangan para guru B.Inggris SMP dan SMA dan yang selevel, baik berkenaan dengan prinsip dasar serta aplikasinya dikelas yang mengakibatkan terjadinya “malpraktik” dari pendekatan itu. Para guru pun belum banyak yang mengetahui bagaimana mengintegrasikan pengajaran keterampilan berbahasa dalam pendekatan genre-based serta cara menilai teks yang dibuat oleh siswa.
    4. Tantangan dalam mengaplikasikan pendekatan genre-based antara lain:
      a. Kemampuan bahasa Inggris guru yang harus kuat untuk memungkinkan mereka mampu member berbagai linguistic sources berkenaan dengan berbagai jenis teks yang diajarkan;
      b. Kesabaran serta keuletan guru dalam mengimplementasikan langkah-langkah pembelajaran dalam setiap tahap SFL GBA untuk mengembangkan keterampillan berbagai keterampilan berbahasa termasuk, reading, writing, listening dan speaking;
      c. Menghadapi kelas yang besar
      d. Menghadapi ujian nasional yang bisa mendorong guru untuk “teach for the test yang hanya mengacu pada materi ujian nasional dan enggan melakukan inovasi sekaitan dengan aplikasi SFL GBA.
    5. Sebaiknya pertanyaan Pak Rudi bukan belum siap tidaknya guru-guru bahasa Inggris kita untuk menerapkan pendekatan Genre-based dalam pengajaran di sekolah tetapi bagaimana memperkuat kemampuan guru-guru bahasa Inggris di sekolah dalam menerapkan genre-based teaching karena jelas pendekatan ini bertujuan baik untuk mendorong mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kemampuan yang sangat mendesak untuk dikembangkan di Indonesia dewasa ini di era digital.
    6. Kenapa harus menggunakan Genre-based teaching, Ribuan buku teks sudah tersedia untuk dibaca oleh kita. Why GBA? The complexity of L2 requires a strategic way of teaching L2, GBA is ‘equipped with’ stages which allow teachers to sequence and slowly give access to meaning for students to learn; What we aim to teach may or may not be what students are supposed to learn; Designing lesson plan should function for both students and teachers
    7. Solusinya harus ada kerjasama antara guru-guru terutama ketua MGMP B.Inggris untuk bekerjasama dengan para peneliti riset tindakan mengatasi permasalahan penerapan pendekatan Genre-based teaching di ruang kelas. Untuk itu saya siap bekerjasama dengan pak Rudi untuk meneliti mencari solusi yang menjadi kegalauan Pak Rudi dalam penerapan Pendekatan Genre-based.
  • sunting Maret 2017

    Dalam hal ini saya setuju dengan Pak Elih. Mungkin ada yang luput dari pemahaman kami mengenai scaffolding dan BKOF.
    Terimaksih atas tawaran kerjasamanya. Mudah-mudahan kami dapat merealisasikannya.

  • Pa Kwary....Itu bahasa Linggis, pa :)

  • Hahaha....iya... di Linggis saja itu penulisnya...upz.., krn mengajarkan yg salah.
    Kalau melihat contoh di atas, saya setuju dgn Pak Rudi, bahwa SFL belum siap diterapkan di Indonesia (bukan hanya SFL, metode apapun belum siap, kalau kualitas gurunya spt itu). Tapi memang spt yg disampaikan Pak Elih, pemerintah perlu memperkuat kompetensi guru. Selain pemerintah, beberapa universitas besar memiliki dana pengabdian masyarakat. Dana tsb seharusnya utk pelatihan guru. Plus, pasti sdh ada beberapa guru yg berhasil menerapkan SFL, dan mereka ini seharusnya bisa diundang menjadi narasumber :-)

  • sunting Maret 2017

    Pak Kwary dan Pak Elih yang saya hormati,
    Dalam figure di atas jelas menunjukan konflik yang terjadi secara umum pada saat pertama siswa belajar dikelas. Umumnya skill berbahasa Inggris mereka bisa dikatakan rendah atau ada di angka nol. Namun pada saat mereka dihadapkan pada muatan/isi kurikulum disekolah,mereka harus sudah siap untuk memposisikan diri pada level yang seharusnya, sehingga hal ini menimbulkan konflik baik itu secara transactional maupun intransactional. Seperti yang terlihat pada figure diatas, ketika siswa mengejar ketinggalannya, mereka tidak mampu mengejarnya, bahkan padalevel yang dianggap dasar sekalipun.
    Seharusnya sistem kurikulum disesuaikan dengan kompetensi siswa secara proporsional. Jelasnya dengan mengurut kembali materi yang benar-benar dasar dan sesuai dengan kenyataan dilapangan, sehingga konflik itu tidak terjadi.
    Hal inipun terjadi di Kurikulum 2013 dengan pendekatan "Scientific-nya".
    (Ini adalah sepenggal pendapat dari rubrik yang saya baca hari ini di Kompasiana)

  • sunting Maret 2017

    Pak Kwary, dilihat dari sudut pandang FG (Sejauh pemahaman saya mengenai FG/SFL) rangkaian kata pada buku itu tidak bisa dikatakan sebagai teks, tetapi non-teks. Jika ada dua orang sama-sama berbicara tetapi masing-masing berbicara semaunya dan "tidak nyambung‟ (misalnya orang gila) maka apa yang mereka katakana sulit disebut teks karena tidak terlihat hubungan semantisnya. Demikian pula kalau kita menulis sepuluh kalimat lalu kita urutkan kalimat-kalimat tersebut secara acak maka hasilnya sulit disebut teks sebab membingungkan pembacanya. Kesimpulannya, teks mengacu pada “contoh bahasa apa pun, dalam medium apa pun, yang bisa difahami oleh seseorang yang mengetahui bahasa itu”. Teks tidak dapat dipisahkan dari konteks, yakni konteks budaya dan konteks situasi. Konteks situasi merupakan unsur yang paling kuat dampaknya terhadap penggunaan bahasa, dan terdiri dari tiga aspek, yakni field, mode dan tenor; tiga aspek inilah yang nantinya akan membentuk sebuah teks yang dinamakan teks.

  •  Teks merupakan “ satu kesatuan bahasa yang lengkap secara sosial dan konstektual” (Kress,1993:24), yang mungkin bisa dalam bentuk bahasa lisan maupun tulis, dan “lebih disukai dari awal sampai akhir” (Eggins,1994:5). Konsep ini lah yang mendasari salah satu prinsip dalam SFL GBA bahwa ketika seseorang menulis atau berbicara, dia harus menulis atau berbicara dengan struktur organisasi yang lengkap dari awal sampai akhir, hingga tuntas. Adapun pertimbangan apakah “ a stretch of language” atau serangkaian kata/kalimat itu bisa dianggap sebagai teks atau bukan tidak bergantung pada jumlah atau panjangnya, tetapi pada makna (Feez dan Joyce,1998; Lemke,1991; Christie dan Misson ,1998).
     Konteks situasi merupakan unsur yang paling kuat dampaknya terhadap penggunaan bahasa, dan terdiri dari tiga aspek, field, mode, and tenor (Halliday 1976;1985; Halliday dan martin,1994; Hasan, 1996; Martin,1997,2010).
     Konsep ini pula yang menjadi dasar bahwa dalam SFL GBA siswa harus mengetahui tahap-tahap dalam menulis berbagai jenis teks karena pemahaman terhadap tahap-tahap itu akan membantu mereka mencapai tujuan komunikasi yang dilakukannya dengan menggunakan bahasa.
     Oleh karena SFL mengkaji teks, bukan kalimat, sebagai unit dasar untuk menegosiasi makna; SFL GBA juga menyarankan bahwa objek pengajaran dan penelitian bahasa seharusnya melibatkan teks secara keseluruhan, bukan ujaran atau kalimat yang terlepas dari konteks. (Christie dan Unsworth, 2000, Eggins ,1994)

  •  1. I’ve been learning English for two years. 2. He’s been playing guitar for six months. 3. They’ve been living in Sidney for one month. 4. We’ve been working here for 3 years. 5. She’s been studying French for two weeks(Eggins,1994:86
     Kumpulan klausa di atas grammarya betul, semua klausa grammarnya sama, dan bisa dikatakan mempunyai grammatical parallelism.
     Akan tetapi seperti dikatakan Eggins (1994:86), andaikata ditanya apakah sekelompok klausa di atas bisa membentuk satu teks yang utuh maka jawabannya tidak, karena kita tidak bisa mengidentifikasi topik, siapa yang berbicara kepada siapa, dan apakah dia berbicara secara tertulis atau lisan.
     Jadi kumpulan itu tidak mempunyai situational coherence dan generic coherence.

  • Sangat betul sekali, dan saya rasa apa yang pak Elih utarakan mendukung apa yang saya katakan.

  • Dan diagram yang saya postingkan di atas merupakan jawaban sebenarnya di lapangan (walaupun saya tidak menelitinya secara statistik) dari kenyataan penerapan GBA di Indonesia, bahwa Indonesia belum siap denga GBA. Saya tegaskan lagi, supaya tidak salah faham, bukan GBA nya yang bermasalah, tetapi masalahnya ada pada ketidaksiapan kita (Indonesia) terhadap konsep/pendekatan macam ini. Sekali lagi, saya berbicara realita di lapangan.

  • Dan diagram yang saya postingkan di atas merupakan jawaban sebenarnya di lapangan (Walaupun saya tidak menelitinya secara statistik) dari kenyataan penerapan GBA di Indonesia, bahwa Indonesia belum siap denga GBA. Saya tegaskan lagi, supaya tidak salah faham, bukan GBA nya yang bermasalah, tetapi masalahnya ada pada ketidaksiapan kita (Indonesia) terhadap konsep/pendekatan macam ini. Sekali lagi, saya berbicara realita di lapangan.

  • Dan diagram yang saya postingkan di atas merupakan jawaban sebenarnya di lapangan (Walaupun saya tidak menelitinya secara statistik) dari kenyataan penerapan GBA di Indonesia, bahwa Indonesia belum siap denga GBA. Saya tegaskan lagi, supaya tidak salah faham, bukan GBA nya yang bermasalah, tetapi masalahnya ada pada ketidaksiapan kita (Indonesia) terhadap konsep/pendekatan macam ini. Sekali lagi, saya berbicara realita di lapangan.

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.