Text Genres pada Kurikulum Bahasa Inggris di Sekolah Menengah

Semoga forum ini mampu memberi pencerahan mengenai kurikulum bahasa Inggris di sekolah menengah yang menurut saya terlalu terfokuskan pada Text Genres dan istilah-istilah yang membuat para siswa sekolah menengah "kelimpungan" dalam memahaminya karena memang istilah-stilah tersebut, menurut saya, tidak "Tepat guna dan sasar"; text genres pada buku-buku sekolah menengah cenderung terarah pada "Systemic Functional Linguistics" .

«1

Komentar

  • Terima kasih atas informasi Pak Rudiyana. Bagaimana pendapat teman-teman yang menekuni SFL?

  • Yth Pak Rudiyana saya Elih Sutisna Yanto, ingin memberikan sedikit opini terhadap kasus yang Bapak angkat. Perkembangan kurikulum Bahasa Inggris di Indonesia terjadi sejak tahun 1945, tapi saya ambil mulai tahun mulai tahun 1984 . Kurikulum 1984 menekankan pendekatan komunikatif yg dianggap pendekatan terbaik dalam pengajaran bahasa Inggris , bahkan sampai sekarang. Tahun 2001, kurikulum berdasarkan kompetensi mengembangkan bahasa Inggris dengan menggunakan kompetensi target. Kurikulum 2004, seiring perubahan pengajaran bahasa Inggris di Australia yg tidak puas dengan pengajaran bahasa yang ada saat itu, fokus kepada bentuk bahasa (form) bukan function, melibatkan lingustik sistemik fungsional (SFL) dan SFL genre-based approach. Siswa di dorong belajar bahasa Inggris berbasis teks dalam belajar bahasa Inggris. Berfokus kepada function, generic strucure, lexicogrammatical features dan language features. Kurikulum 2006, dan kurikulum 2013 s.d sekarang masih menggunakan SFL genre-based approach yang digunakan pula di Singapura, Vietnam, Jepang China dan beberapa negara lainnya. Sejatinya, pengajaran bahasa Inggris menggunakan pendekatan SFL, GBA, harus mengikuti model-model pengajaran yang sudah diujicobakan dengan baik yaitu melalui tahap-tahap/siklus: 1.Building Knowledge of the field dengan 7 turunan modus operandinya 2. Modelling 12 turunan modus operandinya, 3.Join construction dengan 6 turunan modus operandi terakhir 4. Independent construction , tahap kemandirian siswa . Tentu saja guru tidakdianjurkan menjelaskan terminologi dari tahap-tahap ini, akan tetapi guru membelajarkan siswa dengan modus operandi tadi. Permasalahan yang ada kembali kepada kualitas SDM guru bahasa Inggris SD,SMP, SMA sederajat yang ada saat ini masih belum menggembirakan kita. Pelatihan yang diberikan tentang pengajaran bahasa Inggris menggunakan SFL,GBA ini belum menjangkau banyak guru ,hanya guru-guru yang ada di kota saja. Sehingga banyak guru bahasa Inggris yang misinterpretasi dengan pendekatan ini akhirnya jadi malpraktik. Demikian opini saya Pak Rudi. Terimakasih.
  • Tambahan informasi Pak Rudiyana. Teori-teori yang mendasari pengajaran bahasa Inggris menggunakan pendekatan
  • Pak Rudiyana. Perlu dielaborasi tentang statement "terlalu fokus pada text genres". Istilah-istilah mana yang Bapak anggap membuat siswa kelimpungan dan tidak tepat sasaran? Bagian mana dari buku-bukusekolah cenderung terarah ke systemic functional grammar? Dapatkan pernyataan pernyataan tersebut dijabarkan dengan ilustrasi agar mudah dipahami pembaca?

  • Sambil menunggu penjelasan Bapak, saya akan mencoba memberi gambaran yang semoga membantu menemukan hubungan-hubungan konsep antara text - genres, systemic functional linguistik dan pengajaran bahasa untuk tujuan komunikasi.

    Systemic Functional Linguistics (SFL) menempatkan bahasa sebagai sebuah sistem semiotika sosial. Artinya, bahasa dibahas dalam fungsinya dalam masyarakat sebagai sistem komunikasi. Jika kita mengajar bahasa untuk tujuan mengembangkan kemampuan BERKOMUNIKASI, maka wajarlah jika kita menggunaka filsafat SFL sebagai landasannya. (Jika kita melihat bahasa sebagai a set of rules, maka barangkali bisa menggunakan pendekatan lain.)

    Lalu mengapa SFL dan kurikulum kita sejak 2004 terfikus kepada teks? Karena teks adalah peristiwa komunikasi yang bermakna. Teks adalah satuan makna. Dengan demikian, teks bisa lisan, bisa juga tulis. Ketika kita berkomunikasi, kita menciptakan makna, kita saling bertukar makna dan makna-makna tersebut direalisasikan dalam bunyi-bunyi, tulisan dll. Sinyal-sinyal berupa bunyi, huruf dll ini yang ditangkap oleh audience. Akan tetapi, sinyal-sinyal tersebut terbentuk oleh makna (gagasan perasaan) yang ada di pikiran kita.

    Ketika kita mengajar bahasa untuk berkomunikasi, kita mengajarkan bagaimana makna-makna yang hendak kita sampaikan kita tata dalam pikiran (dengan grammar, vocabulary) dan selanjutnya kita bunyikan atau kita tulis. Jadi terdapat alur begini: kita punya niat mau 'memberi informasi' maka kita mengatur pikiran kita dengan memilih kalimat deklaratif, lalu memilih vocabulary (sesuai dengan info yang akan kita sampaikan), lalu kita ucapkan (ini perlu sound system atau writing system). Maka jika kita menggunakan pendekatan SFL, pengajaran grammar dan vocabulary itu penting. Istilah kerennya, komunikasi melibatkan discourse semantic level, lexicogrammatical level dan phonology dan graphology level.

    Bagaimana dengan outcome-nya? Outcome-nya adalah teks, yakni peristiwa komunikasi mulai dari short functional texts, conversation sampai academic writing. Penulis buku teks sebaiknya memahami konsep-konsep ini dan bagaimana menerjemahkannya ke buku ajar. Bahwa buku teks yang sekarang digunakan masih jauh dari harapan kita, itu lain perkara.

    Semoga tulisan ini menjawab pertanyaan mengapa pengajaran bahasa perlu berbasis teks. Diantara sekian ribu macam teks ada teks-teks yang memiliki keajegan struktur untuk mencapai tujuan komunikatif tertentu. Teks-teks ini disebut genres. Yang menemukan keajegan ini adalah para corpus linguists yang sudah meneliti ribuak teks, jadi bukan hasil intuisi.

    Mengapa SFL? Karena SFL melihat bahasa sebagai satu sistem komunikasi antar manusia, sebagai satu sistem semiotika sosial.

    Jika masih ada pertanyaan, silakan utarakan di forum ini.

  • Satu catatan lagi. Dalam proses penulisan buku bahasa Inggris penulis 'dikacaukan' oleh keharusan menggunakan SCIENTIFI APPROACH (entah dari dunia mana datangnya) sehingga logika pengembangan materinya menjadi kacau. Ada usaha memperbaikinya, tetapi sepertinya gagal. Maka buku seperti itulah yang dipakai di sekolah.

  • Pak Rudiyana ,contoh sekolah yang sudah menerapkan pembelajaran bahasa Inggris menggunakan SFL-GBA (berbasis teks) di Bandung adalah SMPN 2 Bandung dengan ibu guru pengajarnya Ibu Inggy . Dari pemantauan ke kelas, semua siswa sangat happy dengan pembelajaran yang ada tanpa guru harus menjelaskan terminologi yang rumit dan memang tidak untuk dikonsumsi siswa.

  • sunting September 2016

    Salam Hormat Pak Elih dan Ibu Agustien,
    Terimakasih atas penjelasannya.
    Selaku pengajar dan individu, saya hargai setiap kurikulum yang diamanahkan oleh pemerintah karena memang, dan sudah pasti, itu semua telah terlebih dahulu mengalami proses pengkajian.
    Memang, dan pada hakikatnya, hasil akhir dari sebuah pengajaran dan pembelajaran bahasa adalah komunikasi , baik lisan ataupun tulisan, tentunya. Akan tetapi, apakah dengan menerapkan Genre- Based Approach adalah cara efektif pemerintah kita untuk "mengunggulkan" kompetensi masyarakat kita dalam bertutur bahasa Inggris, sementara porsi tata bahasa (Grammar), dan itu pintar-pintarnya pengajar bahasa dalam "memanfaatkan" waktu untuk menyampaikan Grammar, amatlah sedikit?
    Sebagai seorang pengajar bahasa Inggris, saya pribadi menyadari bahwasannya tidaklah mungkin menjelaskan terminologi- terminologi SFL pada siswa. Saya pribadi, jika ada siswa yang bertanya mengenai istilah-istilah itu, akan menjawab bahwa , mislanya "Process" adalah "kata kerja", "circumstances" adalah "kata keterangan", dll. Pun, dari sini muncul pertanyaan apa itu "material, verbal, behavioral, existential, mental process, dll, (seperti yang kita ketahui bahwa masing-masing "process" tersebut "erat" melekat pada text genre tertentu),
    dan itu semua, selaku pengajar bahasa Inggris di sekolah menengah, tidak mungkin akan saya elaborasikan dengan gamblang dan detail.
    Lantas hasil di lapangan seperti apa dengan pendekatan Genre-Based Approach? Secara pribadi, pendekatan pengajaran seperti ini, yang sekali lagi menurut saya, kurang "bijak". Kenapa? Karena yang dihasilkan dari pendekatan ini adalah masyarakat hanya tampak terlihat hebat dalam berbicara bahasa Inggris, sementara kalau kita amati ujaran mereka secara gramatikal dan sintaksis hasilnya bisa dibilang "NOL BESAR". Dengan kata lain mereka hanya mampu merangkai kata dengan kosa kata bahasa Inggris semnetara "sense-nya" tetap bahasa Indonesia.

  • Salam Hormat Pak Elih dan Ibu Agustien,
    Terimakasih atas penjelasannya.
    Selaku pengajar dan individu, saya hargai setiap kurikulum yang diamanahkan oleh pemerintah karena memang, dan sudah pasti, itu semua telah terlebih dahulu mengalami proses pengkajian.
    Memang, dan pada hakikatnya, hasil akhir dari sebuah pengajaran dan pembelajaran bahasa adalah komunikasi , baik lisan ataupun tulisan, tentunya. Akan tetapi, apakah dengan menerapkan Genre- Based Approach adalah cara efektif pemerintah kita untuk "mengunggulkan" kompetensi masyarakat kita dalam bertutur bahasa Inggris, sementara porsi tata bahasa (Grammar), dan itu pintar-pintarnya pengajar bahasa dalam "memanfaatkan" waktu untuk menyampaikan Grammar, amatlah sedikit?
    Sebagai seorang pengajar bahasa Inggris, saya pribadi menyadari bahwasannya tidaklah mungkin menjelaskan terminologi- terminologi SFL pada siswa. Saya pribadi, jika ada siswa yang bertanya mengenai istilah-istilah itu, akan menjawab bahwa , mislanya "Process" adalah "kata kerja", "circumstances" adalah "kata keterangan", dll. Pun, dari sini muncul pertanyaan apa itu "material, verbal, behavioral, existential, mental process, dll, (seperti yang kita ketahui bahwa masing-masing "process" tersebut "erat" melekat pada text genre tertentu),
    dan itu semua, selaku pengajar bahasa Inggris di sekolah menengah, tidak mungkin akan saya elaborasikan dengan gamblang dan detail.
    Lantas hasil di lapangan seperti apa dengan pendekatan Genre-Based Approach? Secara pribadi, pendekatan pengajaran seperti ini, yang sekali lagi menurut saya, kurang "bijak". Kenapa? Karena yang dihasilkan dari pendekatan ini adalah masyarakat hanya tampak terlihat hebat dalam berbicara bahasa Inggris, sementara kalau kita amati, ujaran mereka secara gramatikal dan sintaksis hasilnya bisa dibilang "NOL BESAR". Dengan kata lain mereka hanya mampu merangkai kata dengan kosa kata bahasa Inggris semnetara "sense-nya" tetap bahasa Indonesia.

  • Salam,
    Izin share Bapak Ibu yang terhormat...
    Menurut hemat saya, buku teks pembelajaran yang ada, terutama pada tingkat SMP dan SMA belum begitu memperhatikan dan mendalami terkait level leksikal pemahaman siswa. Faktor tersebut agak diperparah lagi dengan kurangnya literasi siswa untuk mencerna makna bahasa Inggris secara kontekstual. Konsep SFL memang belum begitu familiar di Indonesia. Buku buku teks pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia, seringkali terlalu padat dengan simbol-simbol teks yang kurang memperhatikan phonological awareness. Saya pernah mendengar sebuah celoteh ketika kuliah S1 dulu sekitar tahun 2000-2005, yang mengatakan bahwa begitu susah dan padatnya serta tidak menariknya buku buku teks pembelajaran bahasa Inggris yang dibuat di Indonesia, ditambah lagi beratnya materi yang disampaikan kalau melihat usia belajar (age of learning) siswa SMP dan SMA yang mungkin baru tahap "BALITA" tapi sudah disodorkan teks-teks yang berat dan akademis. Saran saya, kita perlu membuat sebuah buku pembelajaran yang precise dan catchy, untuk siswa SMP dan SMA kita.. Perlu ada tindakan terkait dengan leksikologi tentang level dan kosa kata yang betul betul sesuai dengan usia belajar bahasa mereka. Belum lagi ditambah, teks narasi yang seringkali tidak sesuai dengan realitas budaya Indonesia atau budaya lokal daerah... Mohon pencerahannya Bapak Ibu... Salam literasi dan SFL, hehe.

  • Saya memahami kegundahan Pak Rudiyana tentang penggunaan SFL-GBA dalam pengajaran bahasa Inggris di sekolah. Tapi saran saya , Pak Rudiyana kembali menyelami filosofi/teori dan praktik dari penerapan SFL-GBL (praksis). Saya kurang sependapat dengan pernyataan Bapak " Karena yang dihasilkan dari pendekatan ini adalah masyarakat hanya tampak terlihat hebat dalam berbicara bahasa Inggris, sementara kalau kita amati, ujaran mereka secara gramatikal dan sintaksis hasilnya bisa dibilang "NOL BESAR". Dengan kata lain mereka hanya mampu merangkai kata dengan kosa kata bahasa Inggris semnetara "sense-nya" tetap bahasa Indonesia", kalau hal ini terjadi ada kekurangtepatan prosedur yang terjadi dalam penerapan praktik SFL-GBA di kelas Bapak. Saran saya coba gunakan fasilitas Corpus dan semiotik sosial untuk memantapkan penerapan SFL-GBA di kelas Bapak, yaitu 1) Show students how language is actually used (CORPUS).
    2) Scaffold students to understand the fact that grammar exists in any text (ATTENTION & AWARENESS)
    3) Assist them to notice how grammar is used in a particular context (GENRE)
    4) Explore how grammatical choices are meaningfully and socially situated (SITUATION & SOCIAL PRACTICE)
    5) Practice using these resources to make meaning (SEMIOTIC)
    6) Experience a variety of lexico-grammatical uses in texts (ENGAGEMENT).
    Selamat berjuang Bapak Guru Rudiyana dan semoga siswa-siswa Bapak sukses dalam proses pembelajarannya.

  • Terima kasih untuk komentar2 yg baik. Pertama akan saya tanggapi soal istilah teknis. Ketika kita belajar bahasa di konteks FOREIGN language, mau tidak mau kita berurusan dengan istilah teknis. Saya belajar the simple present tense, the present perfect continuous tense, verb, adverb, gerund dll. itu semua istilah teknis alias metalanguage atau bahasa untuk membicarakan bahasa. Gejalan bahasa seperti tenses memang harus kita beri nama atau label. Bagaimana kita menjelaskan tenses kalau tidak pakai istilah teknis? Istilah2 tenses itu tidak mudah lho... karena konsep tense tidak ada di bahasa Indonesia. Toh tidak ada guru yang keberatan mengajarkan tenses; bahkan banyak yang mengukainya.

    Bagaimana dengan istilah2 seperti descritive, recount dll? Ini juga istilah teknis yang diperlukan untuk menciptakan teks dan konsep2 ini jauh lebih mudah dari pada konsep tenses. Bahkan bahasa Indonesianya juga ada, tidak seperti tenses. Jadi, metalanguage tetap diperlukan. Mengapa?

    Sebelum KBK, pelajaran didasarkan pada grammar dan topik. Dalam buku ajar disajikan berbagai topik. Akan tetapi, setelah diteliti, communicative purpose yang muncul pada tingkat SMA hanya descritive, recount dan narrative. Artinya, meski tampaknya banayk topik, communicative purpusesnya miskin, kurang menyiapkan siswa SMA ke perguruan tinggi. Dalam KBK 2004 dan KTSP 2006 Communicative purposesnya ditetapkan agar paling tidak bisa mencakup school genres.

  • Kedua soal waktu untuk grammar. Ini ada hubungannya dengan learning theorynya Vygotsky yang sering kali luput dari perhatian guru dan penulis buku. Teori ini sangat kompatibel dengan genre-based approach yang menggunakan basis SCAFFOLDING dengan model sebagaimana saya attached di bawah ini (Semoga bisa dibulka.)

    Model ini mengusulkan adanya siklus dan tahapan. Pada tahap Building Knoewledge, pengetahuan tentang grammar, vocabulary dan kegatan penyertanya diberikan porsi yang lumayan dan dalam 2 siklus (spoke dan written) alokasinya bisa mencapai 80 menit atau lebih untuk tiap genre. Dalam KTSP, SATU GENRE diberi alokasi waktu SATU BULAN. Satu bulan ini major texts seperti conversatin. short functional texts, monologue, essay diperkirakan tercakup. Maka, jika model pembelajaran ini diikuti, satu semester bisa mencakup 3 genres.

    Para guru banyak yang memberi masukan bahwa dengan genre-besed approach (GBA) ini rencana pembelajaran dapat disiapkan dengan baik dan mereka happy karena mereka bisa mengajarkan writing dengan sistematis. Penelitian yang dilakukan teman2 guru dan bahkan guru besar menunjukkan keberhasilan GBA di sekolah2 Indonesia (sebelum diganti dengan kurtilas). Hasil penelitian tersebut tidak mengatakan bahwa hasil GBA adalah nol besar. Statement ini perlu justification, perlu didukung penelitian.

    Bahwa susunan teks dan buku teks di kurtilas sekarang kacau, bukan salah GBA. Para guru tahu kekacauan ini, tetapi berbekal pengalaman KTSP mereka berusaha menyiasati agar delivery mereka tetap baik. Thanks to the teachers.

  • Mengenai jenis process terkait dengan genre tertentu, mengapa mereka tidak boleh tahu? Bukankan pengetahuan ini membantu guru untuk memilih vocaburay yang tepat untuk mengajar topik dan genre tertentu? Misalnya, guru perlu tahu kapan passive voice diajarkan, untuk teks macam apa. Ini pengetahuan penting bagi guru dan siswa. Mengajar grammar kan harus dalam konteks... passive voice banyak digunakan ketika, misalnya, menulis teks argumentatif. So why not?

  • Guru bebas memilih pendekatan tertentu yang dianggap bijak, sejauh pendekatan tersebut accountable... artinya memiliki theoretical foundation.

  • Bapak rharyono, soal buku teks... mari kita lihat realita saat ini.

    Di jaman internet dan gedget ini, guru bahasa Inggris sebenarnya sangat diuntungkan. Kalau guru sudah memiliki framework seperti diagram yg saya post di atas, tidak ada alasan bagi guru untuk mengatakan bahwa dia sulit mendapatkan materi yang baik. Silakan coba.

    Buku terbeitan Indonesia? Saya setuju... tidak menarik. Makanya guru perlu kreatif. Gunakan teknologi, libatkan siswa dalam mencari bahan di internet. Pasti mereka senang. Tentu saja, guru harus melek teknologi. Kalau guru enggan berIT ya barangkali sudah waktunya untuk pensiun.

    Bagaimana dengan kompetensi atau tingkat literasi siswa? Ini sangat bervariasi tetapi saya menolak untuk mengatakan literasi Inggris mereka masih balita.

    Mahasiswa saya yang ppl di Semarang terkadang takut PPL karena di antara siswa SMP terdapat siswa yang sudah cas cis cus, grammarnya juga bagus. Mereka les Inggris sejak kecil, ada yg lulusan SD bilingual dan mereka bergaul dengan gadget. Ini realita sekaligus tantangan.

    Barangkali di kota kecil siswanya literasinya masih balita, ini perlu penyiasatan. Yang paling bisa melakukan penyiasatan adalah pemerintah: sikap pemerintah terhadap bahasa Inggris. Perlu kebijakan bahasa.

    Bottomline-nya... mari bersikap positif dan kreatif menyikapi realitas yang ada. Jangan pesimis dan tetap bersemangat!

  • Sahabatku bu Agustien...ada begitu banyak pertimbangan mengapa, saya pribadi, istilah-istilah dalam GBA-SFL tidak begitu banyak disampaikan karena menurut hemat saya bahwasannya hal tersebut justru akan membuat siswa semakin kebingungan. Masing-masing "process" akan berperan "identik" pada text genre tertentu, yang pada akhirnya, pada lexico gramatical, akan bermuara pada tata bahasa ( Tense, dsb). Masing-masing "process" memiliki peruntukan dan definisi masing-masing, dan sebagian ada yang identik mirip bahkan sama. Jika hal itu dijabarkan dengan penjabaran sebagaimana mestinya, maka tujuan pembelajaran bahasa justru akan baur dari tujuan yang diamanatkan oleh pemerintah kita. Misalnya jika saya membuat perumpamaan untuk menentukan jenis "process" yang terdapat dalam kalimat-kalimat ini:
    1. "My father threw the books VS My father threw a tantrum" atau
    2. "She drove a car VS She drove a hard bargain"
    tentunya kalimat-kalimat tersebut, jika dianalisis atau bahkan dijabarkan, akan menimbulkan kebingunan yang teramat sangat terhadap pemahaman siswa, bahkan (saya yakin) mahasiswa bahasa tingkat atas sekalipun akan "bingung" (dari pengalaman saya sebagai dosen SFL/FG), apalagi jika sudah masuk pada tahap register dan clause-complexing and logico semantic, tentunya mahasiswa bahasa Inggrispun akan "kelimpungan " dalam memahami hal itu (untuk hal ini saya jarang dan hampir tidak pernah menemukannya di buku-buku SMA). Sekali menjabarkan konsep SFL maka akan merembet ke pokok persoalan SFL yang lainnya karena konsep-konsep SFL, menurut pemahaman saya, adalah konsep yang saling tali menali, tidak bisa dijabarkan hanya pada konsep tertentu saja. Oleh karena itu, saya pribadi, jika ada siswa kritis bertanya, saya masih tetap tidak akan menjabarkannya di dalam kelas, saya akan memanggil siswa tersebut ke ruangan saya untuk saya jabarkan).

  • Sahabatku Pak Elih...Terimakasih banyak atas masukannya. Akan saya coba dan perdalam sarannya tersebut :)

  • Salam Pak Yono... saya pribadi setuju dengan pendapat anda. Buku teks bahasa Inggris untuk sekolah menengah masih terlihat dikerajakan dengan "asal-asalan". Di satu sisi pemerintah kita menerapankan pendekatan GBA, tetapi di sisi lain justru amat" menggelitik" saya. Bagaimana bisa pemerintah memuat hampir seluruh cerita-cerita naratif masyarakat Indonesia, yang notabene seluruh masyarakat Indonesia kenal dan tahu cerita tersebut, ke dalam bahasa Inggris; terlebih dari situ dibuatkan pertanyaan pilihan berganda mengenai partisipan, waktu kejadian, tempat kejadian, nilai moral, dll; dan sudah barang tentu mereka akan dengan mudah menjawabnya dengan benar. Bukankah ini "menggelikan"?

  • Menurut saya, apapun teorinya, buku pelajaran menjadi salah satu sarana krusial untuk interaksi antara guru-murid-ilmu pengetahuan. Meski bukan penganut SFL dan tidak pernah dapat MK ini, saya sempat membaca buku SFL yg ditulis Halliday & Matthiassen.

    Mungkin rekan-rekan guru bisa sharing, apakah buku pelajaran SMA, khususnya bahasa inggris, tidak disertai dengan teacher's book yang menunjukan bagaimana cara mengajarkan buku tsb kepada siswa?

    Menurut saya, teachers book itu penting juga, karena tidak semua guru pernah mendapat/mempelajari SFL ketika kuliah. Dan agak sulit mengajarkan menggunakan suatu buku, kalau pengajarnya juga tidak paham buku tersebut.

  • Selamat pagi. Salam kenal, saya Dewi Puspitasari, seorang Guru di Pekalongan Jawa Tengah.
    Sungguh menarik sekali diskusi ini. Terima kasih kepada kawan-kawan pemerhati pendidikan, sungguh diskusi tentang SFL ini merupakan suatu pencerahan bagi saya. Terima kasih sekali lagi kepada Bapak Elih dan Ibu Helen.

    SFL, dari Benci jadi Cinta
    Awalnya, saya tidak suka dengan Teori SFL karena saya hanya mengenal Theme, Rheme.. Buat apa sih? Pikir saya. Lambat laun, saya memperluas bacaan dan menemukan article SFL - Appliable LInguistics. Ternyata, pembelajaran sebelum mengenal SFL secara dalam ini dulu merugikan siswa saya, karena apa yang saya ajarkan terkdang tidak sesuai dengan konteks kebutuhan mereka, dang siswa siswi isy sebagai kumpulan individu yang 'general', padahal tiap individu berbeda. Bagaimana bisa saya menyeragamkan mereka yg berbeda ini memiliki pemahaman dan achievement yang sama in the end? Bagaimana sy bisa memaksa siswa utk mengikuti gaya saya (duluuu sekali terjebak dalam proses belajar menghafal rumus hehe tanpa mempertimbangkan penggunaan teks yang sesuai dengan konteks)?
    Alhamdulillah lewat belajar dan belajar, SFL pun mempengaruhi paradigma berfikir saya. Bagaimana bisa? Ini yang saya temukan dari artikel Systemic Functional Linguistics as Appliable Linguistics: Social Accountability and Critical Approachees (Mathiessen, 2012).
    Systemic Functional Linguistics grew out of an effort to develop an appliable kind of linguistics, starting with the work of M.A.K Halliday in the 1950s and drawing on functional and anthropological approaches to language..
    The term of 'appliable linguistics' is a kind of linguistics where theoryis designed to have the potential to be applied to solve problems that aroise in communities around the world, involving both reflection and action, it represents a way of relating theory and application as complementary pursuits rather than a thesis & antitheisis pair destined to be in constant opposition: appliable linguistics constitutes the synthesis position bringing theory and application together in dialogue.

    Tentu saja, masih banyak hal yg belum saya pahami, namun sy tidak akan berhenti karena filosofi yang sy anut adalah: I must humanize the learners - bahwa ketika melakukan proses mengajar, saya juga harus melakukan proses belajar, karena I'm not the God of Knowledge, untuk inilah saya ingin bertanya kepada Pak Elih mengenai beberapa 'turunan' dari tahapan BKOF dan kawan2. Terima kasih dan Selamat Pagi semua...

  • Terimakasih kepada Bu Guru Dewi dari Pekalongan sudah berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang SFL. saya Elih dari Purwakarta sukarelawan guru SMA bahasa Inggris ingin berbagi pengalaman saat mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa SMA menggunakan pendekatan SFL GBA. Seperti sudah diceritakan sebelumnya juga dari penjelasan Ibu Helena sebagai pakar SFL Indonesia yang juga murid langsung dari Mbah Halliday dan Ruqayah Hasan bahwa dalam pengajaran bahasa Inggris menggunakan pendekatan SFL GBA. Guru melakukan beberapa tahap pembelajaran. Pertama adalah tahap Building Knowledge of the Field dengan modus operandi sebagai berikut: Tahap pertama, Siswa diberi berbagai teks, tentang topik yang akan ditulisnya , misalkan teks Narrative, procedure, recount dll. Kegiatan ini bisa dijadikan wahana bagi guru untuk mengajar membaca, menyimak atau berbicara , diskusi tentang teks yang dibaca, serta mengajar grammar berkenaan dengan ekspresi, ujaran baku yang ada dalam teks. Misalnya kalau siswa SMP dan yang sederajat kelas 7 akan belajar jenis teks deskriptif dan topiknya "My Pet", maka guru bisa memberi bahan bacaan atau bahan menyimak atau bahan percakapan berkenaan dengan pet. Bahan bacaan bisa diambil dari teks otentik: majalah, internet atau dari bahan yang tersedia di buku-buku teks, atau juga guru bisa membuat sendiri. Tahap 2. Siswa diminta membaca teks pertama, kemudian mereka diberi pertanyaan tentang teks tersebut. Dari kegiatan ini, guru sudah dapat memperoleh nilai kemampuan reading siswa. Di sinilah proses pembelajaran membaca terjadi. Dalam kegiatan membaca ini , misalnya guru bisa menggunakan three phase technique seperti yang disarankan oleh Wallace (1992,2001, Gibbons, 2009:87-99 yakni Pre-reading, Whilst-Reading, dan Post Reading. Ketika membaca siswa dilatih untuk memprediksi makna dari teks berdasarkan gambar, diagram atau visual lainnya, memprediksi dari kata kunci, judul, atau kalimat pertama dari teks yang dibaca, dan mempelajari grammar dan kosa kata yang tidak dikenal siswa yang ada dalam teks tersebut. Selain itu, guru juga bisa membantu siswa untu memberikan eksplisit mengenai apa yang dibahas dalam teks tersebut. Dalam hal ini guru bisa melakukan beberapa hal,misalnya. a. memberikan ringkasan dari apa yang dibicarakan dalam teks; b. memberikan ringkasan dari setiap paragraf dalam teks yang dibaca; c. memberikan kalimat topik dari setiap paragraf; d. kalau memungkinkan guru bisa menggunakan bahasa Indonesia untuk menjelaskan point-point atau konsep-konsep penting. Ketika siswa belajar teks Narrative misalnya, mungkin guru bisa menceritakan cerita dalam bahasa Indonesia sebelum mereka membacanya dalam teks bahasa Inggris; e. Kalau teks yang dipelajari tersedia dalam dua bahasa, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris, siswa bisa membaca versi Indonesianya sebelum mereka membaca versi Inggrisnya. Dalam hal ini perlu diperhatikan sejak siswa membaca teks pertama, siswa perlu diingatkan untuk mencatat ekspresi atau kosa kata yang kira-kira relevan dan bisa dipakai didalam teks akan mereka tulis. Tahap , siswa mengidentifikasi kata atau ungkapan yang tidak dimengerti dalam teks yang dibahas dan meminta siswa untuk menerka arti dari kata atau ungkapan yang ada dalam teks itu. Untuk tahap 4- tahap-tahap 7 nanti kita lanjutkan lagi ya Bu Dewi dilain kesempatan. Terimakasih kembali untuk Bu Dewi yang sudah tertarik dengan pengajaran bahasa Inggris menggunakan pendekatan SFL-GBA. Hormat saya Elih

  • Bu Dewi yang saya hormati mari kita lanjutkan diskusi kita tentang tahapan dalam Building Knowledge of the Field. Masih tahap 3, Apabila siswa tidak bisa menerka makna dari konteks , merema bisa melihat kamus mengenai arti dari kata yang sulit itu. Dalam tahapan ini siswa bisa dijari bagaimana membaca yang baik, termasuk strategi membaca skimming, scanning, predicting, dan bagaimana supaya mereka bisa membaca tanpa harus berhenti atau terganggu pemahamannya ketika menemui satu atau dua kata sulit. Mereka perlu diajari menerka kata dari suatu konteks yang merupakan salah satu ciri dari proficient reader. Setelah teks pertama, siswa bisa diberi lagi teks kedua atau ketiga tentang topik yang sama. Mereka juga bisa diberi pertanyaan tentang teks yang mereka baca, dan dengan demikian, guru pun sudah bisa mendapat nilai reading lagi. Hal ini bisa diulang untuk teks ketiga bahkan tidak terbatas , tergantung kebutuhan. Tahap 4,Siswa belajar keterampilan menyimak , masih berkenaan dengan topik yang dipelajari. Guru bisa membacakan sebuah teks atau memperdengarkan sebuah wacana berkenaan dengan topik yang dibahas dengan memakai tape recorder atau dilaboratorium atau teknologi audio lainnya dan siswa menyimaknya. Siswa juga bisa ditanya tentang pemahaman mereka tentang apa yang telah mereka simak serta grammar yang dipakai dalam teks yang dibahas. Dengan demikian, guru pun sudah bisa mendapatkan nilai kegiatan menyimak siswa. Kegiatan membaca dan menyimak ini bisa dilakukan berulang-ulang supaya anak betul-betul mempunyai pemahaman yang baik tentang topik yang akan mereka tulis dan siap ketika mereka menulis.

  • Teman-teman. Saya senang terjadi diskusi semacam ini. Yang berpartisipasi pastilah mereka yang menaruh perhatian besar terhadap ELT di Indonesia. Berbagai pendapat dari berbagai pihak dan dari berbagai tempat tentu berharga untuk dicermati, dibandingkan dan direfleksikan. Saya menerima banyak dan beragam testimoni, mungkin teman-teman juga demikian. Satu pendapat tidak otomatis dapat menegasikan pendapat yang lain. Di sinilah intellectual exercise terjadi dan ini sehat. Selamat meneruskan diskusi.

  • Yang belum dibahas di forum ini adalah learning theory dan SFL meskipun saya telah memulainya dan melampirkan curriculum cycle milik Derewianka. Pak Elih sudah menyinggung tahapan dan siklusnya. Adalah yang tertarik membahas keterkaitan Vygotsky dan SFL sehingg terjadi siklus pembelajaran seperti milik Derewianka tsb?

  • Ibu Helena , saya mohon ijin untuk melanjutkan berbagi tahap 5- tahap 7 dengan Bu Dewi dari Pekalongan tentang tahapan (modus operandi) yang terjadi dalam BKOF (Building Knowledge of The Field) sambil menunggu teman-teman untuk membahas tentang keterkaitan Teori belajar sosial Vygotsky dan SFL.
    Tahap 5, sangat beruntung kalau sekolah atau guru mempunyai akses kepada penutur jati (native spekers) untuk membicarakan mengenai topik yang dibahas, dan siswa mendengarkan apa yang dikatakan oleh penutur jati itu. Tentu saja siswa akan senang sekali bisa mendengarkan penutur jati dang berbincang-bincang dengannya. Bisa saja penutur jati berbagi pengalamannya tentang liburan di Indonesia. Dari sini siwa bisa belajar banyak tentang kosakata, ekspresi yang diucapkan oleh penutur jati.
    Tahap 6, kegiatan speaking bisa juga dimasukkan dalam tahap BKOF ini , khususnya ketika guru dan siswa membahas secara lisan apa yang ada dalam teks. Dalam tahap ini , siswa bisa diminta untuk menceritakan kembali apa yang telah mereka baca, menjawab pertanyaan berkenaan dengan teks secara lisan atau saling bertanya dengan teman sekelasnya berkenaan dengan teks yang telah di bahas di kelas. Siswa juga bisa diminta membuat Digital Stories Telling tentang kegiatan pembelajarn pada tahap BKOF karena DST bisa digunakan untuk memperkuat kualitas pembelajaran bahasa Inggris saat ini di abad digital. Perlu diingatkan kepada siswa, bahwa siswa sebaiknya senantiasa diminta menandai kalimat-kalimat atau ekspresi-ekspresi yang akandipakai dalam teks yang akan ditulis dan mencatatnya dlam buku harian mereka (daily note/student log) ketika mereka membaca atau menyimak atau berbicara. Bisa juga dalam tahap ini siswa melakukan observasi lapangan, wawancara dan membaca referensi untuk mendapatkan informasi yang diperlukan disertai data tambahan misalnya dengan memotret dan mencatat apa yang mereka lihat. Tahap 7, untuk membantu perkembangan kemampuan berpikir kritis dan membaca kritis siswa, guru bisa mengajukan beberapa pertanyaan yang jawabannya tidak ada di teks, atau yang jawabannya tidak faktual. Misalnya : a. Siapa penulis teks ini, kepada siapa? , b. Mengapa teks ini ditulis?, c. Kepentingan siapa yang dibela dalam teks ini? , d. Siapa yang mendapatkan manfaat dari teks ini?, e. Apakah semua yang dinyatakan dalam teks ini benar? f. Apakah semua yang diungkapkan dalam teks ini relevan dengan topik yang dibicarakan, dengan apa yang dilihat dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari?

  • Tentang tentang teori belajar sosial Vygotsky (Zone of Proximal Development), saya jadi teringat saat menjadi guru b.Inggris sukarelawan SMA antara tahun 2005-2013 pernah mengikuti suatu workshop di Bandung tahun 2007. Narasumbernya menjelaskan teori ini yang sumbernya berasal dari Ibu Helena.Catatanya sbb:
    Meskipun Vygotsky terutama dikenal sebagai tokoh yang memfokuskan kepada perkembangan sosial yang disebut teori sosiokultural, dia tidak mengabaikan individu atau perkembangan kognitif individu. Perkembangan bahasa pertama anak dalam tahun kedua dalam hidupnya dipercaya sebagai pendorong terjadinya pergeseran dalam perkembangan kognitifnya. Bahasa memberi anak sebuah alat baru sehingga memberi kesempatan baru kepada anak untuk melakukan berbagai hal, untuk menata informasi dengan menggunakan simbol-simbol. Anak-anak sering terlihat berbicara sendiri dan mengatur dirinya sendiri ketika ia berbuat sesuatu atau bermain. Ini disebut private speech. Ketika anak menjdai semakin besar, bicaranya semakin lirih, dan mulai membedakan mana kegiatan bicara yang ditujukan ke orang lain dan mana yang ke dirinya sendiri.
    Yang mendasari teori Vygotsky adalah pengamatan bahwa perkembangan dan pembelajaran terjadi di dalam konteks sosial, yakni di dunia yang penuh dengan orang yang berinteraksi dengan anak sejak anak itu lahir. Ini berbeda dengan Piaget yang memandang anak sebagai pembelajar yang aktif, sendirian di dunia benda-benda. Bagi Vygotsky, anak adalah pembelajar yang aktif di dunia yang penuh orang. Orang-orang inilah yang sangat berperanan dalam membantu anak belajar dengan menunjukkan benda-benda, dengan bicara sambil bermain, dengan membacakan ceritera, dengan mengajukan pertanyaan dan sebagainya. Dengan kata lain, orang dewasa menjadi perantara bagi anak dan dunia sekitarnya.
    Kemampuan belajar lewat instruksi dan perantara adalah ciri intelegensi manusia. Dengan pertolongan orang dewasa, anak dapat melakukan dan memahami lebih banyak hal dibandingkan dengan jika anak belajar sendiri. Konsep inilah yang disebut Vygotsky sebagai Zone of Proximal Development (atau ZPD). ZPD memberi makna baru terhadap ‘kecerdasan’. Kecerdasan tidak diukur dari apa yang bisa dilakukan anak sendirian, tetapi kecerdasan dapat diukur dengan lebih baik dengan melihat apa yang dapat dilakukan anak dengan bantuan yang semestinya. Belajar melakukan sesuatu dan belajar berfikir terbantu dengan berinteraksi dengan orang dewasa.
    Menurut Vygotsky, pertama-tama anak melakukan segala sesuatu dalam konteks sosial dengan orang lain dan bahasa membantu proses ini dalam banyak hal. Lambat laun, anak semakun menjauhkan diri dari ketergantungannya kepada orang dewasa dan menuju ke kemandirian bertindak dan berpikir. Pergeseran dari berpikir dan berbicara nyaring sambil melakukan sesuatu ke tahap berpikir dalam hati tanpa suara disebut internalisasi. Menurut Wretsch (1985), internalisasi, bagi Vygotsky, bukan hanya perkara transfer, melainkan sebuah transformasi. Maksudnya, mampu berpikir tentang sesuatu yang secara kualitatif berbeda dengan mampu berbuat sesuatu. Dalam proses internalisasi, kegiatan interpersonal seperti bercakap-cakap atau berkegiatan bersama, kemudian menjadi intrapersonal, yakni kegiatan mental yang dilakukan seorang individu.
    Banyak gagasan Vygotsky yang dapat membantu dalam membangun kerangka berpikir untuk mengajar bahasa asing bagi anak-anak. Untuk membuat keputusan apa yang bisa dilakukan guru agar mendukung pembelajaran kita dapat menggunakan gagasan bahwa orang dewasa menjadi perantara.

  • Ini cuplikan beberapa pendapat ahli tentang Kerangka kerja/Prinsip-prinsip Vygotsky

    • Children construct knowledge.
    • Development cannot be separated from its social context.
    • Learning can lead development.
    • Language plays a central role in mental development. (Bodrova, & Leong, p. 8)

    Newman, Griffin, and Cole (1989) provide deeper understanding of the ZPD with the following ideas:
    1. Both the child and the teacher struggle to understand each other within the zone.
    2. Knowledge is co-constructed by the child and the adult within the zone.
    3. No matter how many times we describe the goal of instruction the child will probably not fully understand it until he has learned the particular concept, skill, or strategy. (Bedrova & Leong, p. 44)

    SCAFFOLDING AND MODELING

    Students require intensive instructional support when learning important skills and strategies that are challenging and in the zone of proximal development. The gradual release of responsibility model requires variable amounts of assistance. In the first stage, the teacher has high responsibility for modeling and explaining the learning task. In the second stage, the teacher and student share responsibility for learning. The student practices or approximates the task, and the teacher gives constructive feedback. When students are ready for the third and final stage, they take on all or nearly all of the responsibility for the work. This model of gradual release is known as scaffolding.

    Teachers who assess students to provide the right amount of challenge and reflect on how they can provide just the right support and its gradual release will have students who attain high levels of achievement (Morrow, Gambrell, & Pressley,

    CONCLUSION
    The major learning from Vygotsky is that cognitive skills and strategies are taught from one generation to the next. Parents and teachers lead students to think and act in ways that they would not know or discover on their own. Children learn from listening and talking with a more knowledgeable person, but they also require scaffolding through demonstration, and actual participation in the task or activity in a realistic context. Effective teachers know that they cannot leave learning to discovery but must structure activities at the just-right level and support learning through conversation, modeling, and active participation in tasks (Pressley, 2002).

    “The only good kind of instruction is that which marches ahead of development and leads it; it must be aimed not so much at the ripe as at the ripening functions.” — Lev Vygotsky

  • Ini beberapa cuplikan tentang keterkaitan teori SFL dengan teori belajar sosialnya Vygotsky yang saya dapat saat mengikuti suatu seminar dengan narasumber Ibu Dr. Siti Wachidah dari UNJ, untuk menambah jelasnya pemahaman kita tentang topik yang dipromosikan oleh Ibu Helena di atas, sehingga teman-teman bisa lebih fokus dalam memberikan pengetahuan dan pengalaman terhadap topik tersebut.

    Keterpusatan peran bahasa dalam perkembangan intelektual dan jiwa manusia berawal dari teori psikologi perkembangan yang dikembangkan oleh Vygotksy (1997; 1986; 1978). Menurut Vygotsky, manusia berkembang karena kemampuannya menggunakan alat untuk mencapai berbagai tujuan dan mengatasi berbagai masalah yang timbul dalam hidupnya sehari-hari karena berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Tingkat intelegensi manusia ditentukan oleh kemampuan manusia memilih dan menggunakan alat secara tepat. Ada dua
    jenis alat yang digunakan manusia, yaitu alat fisik atau mekanik yang digunakan untuk mempengaruhi unsur luar (eksternal) dan alat psikologis yang digunakan untuk mempengaruhi mental dan psikisnya sendiri (internal). Dengan kedua jenis alat tersebut manusia mampu menjadi makhluk yang paling tangguh dan paling berkuasa di bumi. Dari semua alat yang ada, yang paling lengkap, efektif, dan efisien adalah alat psikologis berupa bahasa. Menurut Vygotsky (1978: 28-29), karena bahasa inilah manusia menjadi makhluk yang memiliki tingkat intelegensia yang paling tinggi, dan oleh karena menjadi makhluk yang paling tangguh dan memiliki daya adaptif yang paling tinggi.

    Dengan menggunakan bahasa sebagai alat utama untuk berpikir dan berkomunikasi dengan lingkungannya, manusia mampu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi dengan menggunakan tindakan yang terencana, terkendali dan tidak impulsif. Dengan bahasa sebagai alat utamanya, proses perkembangan mental dan psikologi manusia terjadi melalui proses internalisasi. Artinya, kegiatan interaktif dengan lingkungan secara sedikit demi sedikit akan merubah atau meningkatkan kemampuan semua fungsi kognitif dan psikologis dalam diri manusia.

    Every function in the child’s cultural development appears twice: first, on the social level, and later, on the individual level; first, between people (interpsychological), and then inside the child (intrapsychological). This applies equally to voluntary attention, to logical memory, and to the formation of concepts. All the higher functions originate as actual relations between human individuals. (Vygotsky, 1978: 57)

    Tentang bagaimana bahasa berfungsi mempengaruhi perkembangan mental dan psikis manusia dapat dipahami melalui teori SFL, yang juga memegang prinsip bahwa bahasa adalah dasar dari setiap proses belajar manusia, “the foundation of learning” (Halliday, 1993: 93). Setiap upaya pendidikan dari sejak manusia lahir, di dalam rumah, masyarakat dan institusi pendidikan, dilaksanakan pada utamanya melalui upaya memahami dan mengutarakan makna dengan bahasa (meaning-making). Pada awal perkembangannya, anak berinteraksi dengan lingkungannya hanya dengan menggunakan bahasa lisan (menyimak dan berbicara), dan pada saat memasuki jenjang pendidikan dasar anak dituntut untuk mulai menggunakan bahasa tulis (membaca dan menulis). Menurut SFL hanya ada satu jenis pengalaman yang dapat dinyatakan dengan kata-kata, yaitu ‘proses’. Pada prinsipnya, sesuatu dapat dianggap sebagai proses apabila proses itu benar-benar terjadi, ada yang terlihat dalam proses, dan terjadi dalam satu lingkup situasi tertentu. Oleh karena itu proses selalu terdiri atas tiga unsur, yaitu proses itu sendiri (process), yang terlibat dalam proses (participant), dan situasi yang melingkupi proses (circumstance). Ketiga unsur pengalaman inilah yang dimaksudkan dengan unsur makna dalam penelitian ini (untuk selanjutnya digunakan istilah ‘proses’, ‘partisipan’, dan ‘lingkup situasi’). Dalam bahasa Indonesia, alat yang digunakan untuk menyatakan proses adalah kata kerja, untuk menyatakan partisipan adalah kata benda/kelompok kata benda, dan untuk menyatakan lingkup situasi adalah adverbia/kelompok atau frasa preposisional. Dengan menganalisis setiap klausa dengan tiga unsurnya tersebut akan dapat ditentukan proses apa yang dinyatakan oleh guru dan siswa dalam setiap tindak tutur serta kelengkapan unsur makna apa saja yang digunakan untuk menyatakannya. Hal inilah yang digunakan sebagai dasar untuk mengukur sejauh mana siswa mendapat kesempatan untuk belajar memahami dan mengungkapkan makna melalui partisipasi verbal selama proses pembelajaran di kelas. Partisipasi verbal dianggap sebagai manifestasi nyata dari upaya siswa untuk menumbuhkan perilaku belajar yang bermakna, otentik, dan terkait langsung dengan kehidupan nyatanya.

  • Ini beberapa buku Vygotsky yang bisa dijadikan bacaan kita.
    Vygotsky, L. S. (1997). Genesis of higher mental functions. In R. W. Reiber (ed.). The collected works of L. S. Vygotsky, Volume 4: the history of the development of higher mental functions. New York: Plenum Press
    Vygotsky, L. S. (1986). Thought and language. Cambridge: The MIT Press
    Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: the development of higher psychological processes. Cambridge, Mass.: Harvard University Press.

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.